Selamat Datang Di AgentPools.com logo-182-x-73-2

Home / Berita Ragam / Kisah Sedih Nenek Keterbelakangan, Digenjot Berkali-kali Oleh Dua Pemuda
Kisah Sedih Nenek Keterbelakangan, Digenjot Berkali-kali Oleh Dua Pemuda

Kisah Sedih Nenek Keterbelakangan, Digenjot Berkali-kali Oleh Dua Pemuda

Untuk bertahan hidup, ibu dan anak yang terbelakang mental hanya bisa mengharapkan belas kasihan tetangga mereka. Sebenarnya mereka pernah hidup seorang nomaden dan terbengkalai. Tapi beruntung aparat desa memberinya tempat tinggal di mes bekas sekolah, meski nyatanya tidak sesuai untuk tempat tinggal.

Nenek Wayan Rening (80) di lingkungan Munduk Anyar, Desa Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Bali, diketahui memiliki keterbelakangan mental sejak kecil.

Bencana dalam hidupnya muncul sejak remaja. Bencana yang dia bawa hingga umur senjanya.

“Pak Pak, dia depresi dan mengalami gangguan jiwa, setelah pertama kali diperkosa oleh dua pemuda,” kata seorang warga setempat, Senin (20/4).

Dari kejadian tersebut, dia hamil dan punya anak. Ironisnya, setelah anak itu lahir. Tak lama kemudian ia diperkosa lagi oleh orang-orang berbeda di sawah. Saat itu ia telah mencoba bunuh diri, namun berhasil menggagalkan sejumlah warga. Dan sayangnya ia kembali hamil dan melahirkan bayi laki-laki.

“Anak laki-lakinya yang kedua, yang keduanya merupakan hasil hubungan yang diperkosa oleh laki-laki ke dua kali, dan anak perempuan pertamanya dan hasil dari dua orang anak muda laki-laki,” jelas warga tersebut.

Sayangnya seorang bocah bernama Nyoman Sudania (50) yang diharapkan bisa menjadi tulang punggung keluarga, juga mengalami keterbelakangan mental. Jadi harapan Rening untuk menggantungkan hidupnya pada anaknya sudah rusak.

“Kami tidak tahu siapa orang yang memiliki hati untuk menjadi rusak pada nenek Rening, tiba-tiba neneknya hamil dan itu terjadi dua kali. Untuk mengekstrak informasi dari nenek itu tidak mungkin karena dia terbelakang mental Sudah lama sekali. Lalu “kata salah satu tetangga Rening.

Sejak anak pertamanya menikah dan memilih tinggal bersama suaminya di daerah lain, Nenek Raning dan anaknya yang terbelakang mental praktis tidak ada yang merawat.

Menurut penduduk desa, mereka tinggal dari satu desa ke desa lain, namun tetap satu desa. Terkadang keluarga ini tinggal di pondok kebun orang, terkadang mereka menggunakan kandang sapi yang tidak digunakan. Mereka juga tidak punya saudara.

Untuk menopang kehidupan kesehariannya, keluarga ini hanya bisa mengharapkan belas kasihan warganya. Terkadang mereka makan daun dan buah-buahan yang dipetik dari kebun rakyat.

Selama beberapa tahun terakhir mereka ditugaskan untuk menempati bekas SDN 3 Tegalcangkring, yang terletak di lingkungan Munduk Anyar, Desa Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Bali.

Meski nyatanya kondisi mes tidak layak untuk tempat tinggal karena kondisi yang rusak berat karena sudah lama tidak ada yang menempati, tapi setidaknya mereka bukan lagi kehidupan nomaden. Warga juga lebih mudah berkunjung jika ingin memberikan bantuan pangan untuk mereka.

Di mes yang sangat rusak, nenek Rening, tidur nyenyak tanpa alas kasur dan hanya tikar tapak. Begitu juga dengan anaknya.

Di tengah kekhawatiran itu, masih bersyukur kepada Sudania yang matanya terganggu dan juga terbelakang mental, masih bisa diajak ngobrol. Dia juga diberi kepercayaan oleh salah satu tetangganya untuk menjaga kambing.

Kepala Lingkungan Hidup Munduk Anyar, Ketut Astra membenarkan kondisi warganya yang sangat memprihatinkan. Oleh karena itu warga telah memberikan kebijakan kepada keluarga ini untuk menempati bekas SD mes. Ia juga mengaku telah memperjuangkan mereka untuk memiliki tempat tinggal. “Mereka bahkan membiarkan kita tetap raskin raskin juga,” kata Astra, Senin (20/4), berharap ada pertolongan dari RSJ Bangli yang bisa mengatasinya.

Do you like this post?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Leave a Reply

Your email address will not be published.